Selasa, 26 Januari 2016

Phishing, Spam, Spyware

A.  Phishing
Dalam dunia internet, phishing dikenal juga sebagai aksi penipuan online yang mencoba mencuri data-data penting pengguna internet seperti username, password, dan detail informasi kartu kredit. Teknik serangan yang dilakukan umumnya dengan rekayasa sosial, misalnya dengan memanfaatkan isu-isu terkini seperti peristiwa bencana alam dan gempa bumi, ajang kompetisi olahraga seperti Olimpiade atau Piala Dunia, dan sebagainya.
a.       Contoh email phising :
Membuat situs jaringan palsu yang sama persis dengan situs resmi, sehingga jika ada pengunjung yang mengisikan data pribadi maka informasi akan direkam oleh pembuat situs palsu tersebut.
b.      Contoh website phishing :
Membuat hyperlink  ke situs jaringan palsu melalui email atau instant message

B.  Spam
Spam adalah E-mail sampah yang kerap datang bertubi tubi ke mailbox kita, tanpa kita kehendaki. Isi dari spam tersebut bermacam-macam, dari sekedar menawarkan produk/jasa hingga penipuan berkedok bisnis kerjasama, tawaran multi-level marketing dan iklan-iklan yang tidak dikehendaki.
Contoh E-mail SPAM :
Email-email yang masuk ke inbox spam berasal dari email  tak dikenal.
Dan biasanya berbunyi begini, "Dapatkan 'sebuah barang istimewa' dengan cara mengisikan data-data berikut (nama, alamat, nomor telepon, nama orang tua, email & alternate, nomor kartu kredit, dll) dan mengirimkan kepada kami. Dan dapatkan voucher belanja sebesar $$$ US$".

C.  Spyware
Spyware adalah sebuah program jahat yang bersembunyi didalam komputer. Sesuai namanya, program ini akan memata-matai segala aktivitas kita, yang kita lakukan di internet tanpa sepengetahuan kita, lalu mencari data-data penting seperti userrname, password, dan informasi rekening bank. Data tersebut kemudian akan dikirim kepada si pembuat program.
Contoh :
a.       Keylogger
b.      PC recorder
c.       Parental Control Software
d.      Detective Software  
e.       Detective Software 
f.       Internet monitoring software.

contoh phishing

contoh spam

contoh spyware



Sumber :     Modul Internet untuk Pemberdayaan Perempuan
                        https://ryaneste.wordpress.com/2008/06/06/iklan-lagi-iklan-lagi/
                        danforblogg.blogspot.com




Rabu, 06 Januari 2016

EPIDEMIOLOGI CHIKUNGUNYA

A. Pengertian Chikungunya
Chikungunya adalah sejenis penyakit demam virus yang disebabkan alphavirus (virus chikungunya) dari famili Togaviridae yang disebabkan oleh gigitan nyamuk dari spesies Aedes aegypti dan Aedes albopictus (WHO, 2008). Namanya berasal dari sebuah kata dalam bahasa Swahili yang berarti “yang melengkung ke atas”, merujuk kepada tubuh yang membungkuk akibat gejala-gejala arthritis (Anies, 2006). Istilah lain penyakit ini adalah dengue, dyenga, abu rokap dan demam tiga hari (Widoyono, 2005). Penyakit chikungunya termasuk golongan arthropod-borne disease, karena disebabkan oleh vektor artropoda yaitu nyamuk Aedes aegypti. Penyakit ini sering disebut flu tulang, karena pada umumnya penderita mengeluh nyeri hebat pada tulang-tulangnya (break – bone fever).
B. Gejala penyakit Chikungunya
Demam Chikungunya atau flu tulang (break – bone fever) mempunyai gejala dan keluhan penderita mirip demam dengue, namun lebih ringan dan jarang menimbulkan perdarahan. Pada chikungunya tidak terjadi perdarahan hebat, renjatan (shock) maupun kematian.Beberapa gejala jika terkena demam chikungunya adalah seperti :  Bercak kemerahan atau ruam pada kulit. Bercak kemerahan ini terjadi pada hari pertama demam, tetapi lebih sering pada hari ke 4-5 demam. Lokasi biasanya di daerah muka, badan, tangan, dan kaki. Kadang ditemukan perdarahan pada gusi.  Sakit pada persendian. Nyeri sendi merupakan keluhan yang sering muncul sebelum timbul demam dan dapat bermanifestasi berat, sehingga kadang penderita merasa lumpuh. Sendi yang sering dikeluhkan: sendi lutut, pergelangan, jari kaki dan tangan serta tulang belakang. Pada anak-anak, umumnya rasa sakit pada sendi tak terjadi.  Tiba-tiba demam tinggi yang disertai dengan menggigil dan muka kemerahan. Panas tinggi berlangsung selama 2- 4 hari kemudian kembali normal.  Nyeri otot. Nyeri bisa terjadi pada seluruh otot atau pada otot bagian kepala dan daerah bahu. Kadang terjadi pembengkakan pada pada otot sekitar mata kaki.  Nyeri kepala: nyeri kepala merupakan keluhan yang sering ditemui.  Kejang, biasanya pada anak karena panas yang terlalu tinggi, jadi bukan secara langsung oleh penyakitnya.  Gejala lain. Gejala lain yang kadang dijumpai adalah pembesaran kelenjar getah bening di bagian leher. 
 C. Faktor penyebab timbulnya penyakit Chikungunya 
Demam Chikungunya disebabkan oleh infeksi virus Chikungunya. Virus ini masih satu keluarga dengan Virus Dengue, penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD). Virus ini masuk ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes Albopictus yang juga nyamuk penular DBD. Beberapa faktor yang mempengaruhi munculnya chikungunya antara lain rendahnya status kekebalan kelompok masyarakat, kepadatan populasi nyamuk penular karena banyaknya tempat perindukan nyamuk yang biasanya terjadi pada musim hujan.  Faktor Risiko Penyakit Chikungunya Terdapat tiga faktor yang memegang peranan dalam penularan penyakit Chikungunya, yaitu: manusia, virus dan vektor perantara. Serangan demam Chikungunya dalam bentuk KLB (Kejadian Luar Biasa) sudah sering terjadi, terutama pada musim penghujan. Beberapa faktor penyebab timbulnya Kejadian Luar Biasa (KLB) demam Chikungunya adalah : 
1. Terjadinya perpindahan penduduk dari daerah yang terinfeksi.
2. Sistem pengendalian limbah dan penyediaan air bersih yang tidak memadai. 
3. Berkembangnya penyebaran nyamuk dan bertambahnya kepadatan nyamuk yang disebabkan oleh   buruknya sanitasi lingkungan. 
4. Perubahan iklim dan cuaca yang mempengaruhi perkembangan populasi nyamuk. 
5. Perilaku masyarakat. 
6. Sanitasi Lingkungan, yang berhubungan dengan tempat berkembang biaknya nyamuk (Widodo, 2010). 
7. Jenis kelamin, penyakit cikungunya banyak terjadi pada wanita dan anak-anak karena mereka lebih banyak berada di rumah pada siang hari saat nyamuk menggigit (Widodo, 2010). 

D. Interaksi antara Agent, Host, dan Enviroment pada penyakit Cikungunya 
Penyakit terjadi akibat ketidakseimbangan hubungan antara agent, host, dan enviroment. Terjangkitnya suatu penyakit Chikungunya disebabkan oleh faktor – faktor di bawah ini : 
  1. Host, Adalah organisme tempat hidup agent tertentu yang dalam suatu keadaan dapat menimbulkan suatu penyakit pada organisme tersebut. Host dari penyakit Chikungunya adalah manusia yang kemungkinan terpapar terhadap penyakit Chikungunya. Dalam penularan penyakit Chikungunya faktor manusia erat kaitannya dengan perilaku seperti peran serta dalam kegiatan pemberantasan vektor di masyarakat dan mobilitas penduduk yang tinggi memudahkan penyebarluasan Chikungunya dari suatu tempat ke tempat lain. 
  2. Agent Adalah penyebab utama untuk terjadinya suatu penyakit. Dalam hal ini yang menjadi agent dalam penyebaran penyakit Chikungunya adalah virus chik. Virus penyebab Chikungunya termasuk kelompok virus RNA yang mempunyai selubung, merupakan anggota grup A arbovirus yaitu alphavirus (virus chikungunya) dari famili Togaviridae yang disebabkan oleh gigitan nyamuk dari spesies Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Dengan mikroskop virus ini menunjukkan bentuk virion yang sferis dan kasar atau berbentuk poligonal dengan garis tengah 40 – 45 nm dan inti yang berdiameter 25 – 30 nm. Virus Chikungunya ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes SPP.Nyamuk lain mungkin bisa berperan sebagai vektor namun perlu penelitian lebih lanjut. Nyamuk Aedes tersebut dapat mengandung virus Chikungunya pada saat menggigit manusia yang sedang mengalami viremia, yaitu 2 hari sebelum demam sampai 5 hari setelah demam timbul. Kemudian virus yang berada di kelenjar liur berkembang biak dalam waktu 8-10 hari (extrinsic incubation period) sebelum dapat ditularkan kembali kepada manusia pada saat gigitan berikutnya. Di tubuh manusia, virus memerlukan waktu masa tunas 4 - 7 hari (intrinsic incubation period) sebelum menimbulkan penyakit. 
    1. Environment Adalah segala sesuatu yang berada di luar agent dan pejamu antara lain lingkungan fisik dan lingkungan biologi.  Lingkungan biologi yang mempengaruhi penularan Chikungunya terutama adalah banyaknya tanaman hias dan tanaman pekarangan yang mempengaruhi pencahayaan dan kelembaban di dalam rumah. Kelembaban yang tinggi dan kurangnya pencahayaan dalam rumah merupakan tempat yang disenangi oleh nyamuk untuk istirahat.  Lingkungan fisik yaitu seperti ketinggian tempat, curah hujan, temperatur dan kelembaban.1. Variasi Musiman Pola berjangkit virus Chikungunya tidak jauh beda dengan virus dengue yaitu dipengaruhi oleh iklim dan kelembaban udara. Pada suhu yang panas (28-32°C) dengan kelembaban yang tinggi, nyamuk Aedes akan tetap bertahan hidup untuk jangka waktu yang lama. Di Indonesia, karena suhu udara dan kelembaban tidak sama di setiap tempat, maka pola waktu terjadinya penyakit agak berbeda di setiap tempat. Pada musim hujan populasi Aedes sp akan meningkat, karena telur-telur yang tadinya belum sempat menetas akan menetas ketika habitat perkembangbiakannya (TPA bukan keperluan sehari-hari dan alamiah) mulai terisi air hujan. Kondisi tersebut akan meningkatkan populasi nyamuk A. aegypti, sehingga dapat menyebabkan peningkatan penularan penyakit Chikungunya. Faktor lain yang mempengaruhi peningkatan dan penyebaran kasus Chikungunya sangat kompleks, yaitu pertumbuhan penduduk yang tinggi, urbanisasi yang tidak terencana dan tidak terkendali, tidak adanya kotrol vektor nyamuk yang efektif di daerah endemis dan peningkatan sarana transportasi (Depkes RI, 2004). 2. Ketinggian Tempat Ketinggian tempat berpengaruh terhadap perkembangan nyamuk. Wilayah dengan ketinggian diatas 1000 meter dari permukaan laut tidak ditemukan nyamuk A. aegypti karena ketinggian tersebut suhu terlalu rendah sehingga tidak memungkinkan bagi kehidupan nyamuk (Soedarmo, 1988). 3. Curah Hujan Hujan akan menambah genangan air sebagai tempat perindukan dan menambah kelembaban udara. Temperatur dan kelembaban selama musim hujan sangat kondusif untuk kelangsungan hidup nyamuk yang terinfeksi (Suroso, 2003). 4. Temperatur Virus Chikungunya hampir sama dengan virus dengue yaitu hanya endemik di daerah tropis dimana suhu memungkinkan untuk perkembangbiakan nyamuk. Suhu optimum pertumbuhan nyamuk adalah 25°C – 27°C. Pertumbuhan akan terhenti sama sekali bila suhu kurang dari 10º C atau lebih dari 40ºC (Suroso, 2003). Jadi,dalam penyebaran penyakit Chikungunya, faktor lingkungan sangat berperan,dimana jika keadaan lingkungan mendukung mutasi dari virus maka penyebaran penyakit Chikungunya akan semakin meningkat begitu pula sebaliknya. Penyakit Chikungunya sebenarnya tidak mudah menular dari manusia yang terinfeksi virus Chikungunya. Namun, jalan untuk penularan itu akan semakin mudah oleh adanya sanitasi lingkungan yang buruk,salah satunya. Karena sanitasi lingkungan yang buruk, akan memicu berkembangnya penyebaran nyamuk dan bertambahnya kepadatan nyamuk Aedes aegypti sebagai pembawa virus Chikungunnya. Begitu pula dengan pola pikir orang yang masih tidak percaya dan terkesan meremehkan bahaya penyakit ini.  Berikut contoh mekanisme penularan virus chikungunya : Virus Chikungunya ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes sp . Penularan demam chikungunya terjadi apabila penderita yang sakit (dalam keadaan viremia) digigit oleh nyamuk penular, kemudian nyamuk tersebut mengigit orang lain. Biasanya akan terjadi penularan dari orang ke orang. Penyakit ini biasanya berlangsung selama beberapa hari, kemudian sembuh sendiri dengan masa inkubasi antara 1-12 hari (umumnya 2-4 hari).
  3. Riwayat alamiah penyakit Cikhungunya a. Tahap Pre-Patogenesis Host digigit nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus chikungunya. Tahap pre-patogenesis penyakit chikungunya ini terjadi pada manusia sehat yang memiliki faktor risiko. Salah satunya terinfeksi virus chikungunya oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti. b. Tahap Patogenesis 1. Tahap subklinis/pra gejala/ tahap inkubasi Pada tahap ini nyamuk Aedes aegypti telah menggigit dan virus chikungunya menginfeksi tubuh. Lalu berinkubasi selama 2-12 hari dengan rata-rata 3-7 hari (Widodo, 2010). Meskipun virus telah masuk dan berkembangbiak di dalam tubuh tetapi belum menunjukkan adanya gejala. 2. Tahap klinis/tahap penyakit dini Demam tinggi, sakit perut, mual, muntah, sakit kepala, nyeri sendi dan otot, serta bintik-bintik merah terutama di badan dan tangan, meski gejalanya mirip dengan demam berdarah dengue, pada chikungunya tidak terjadi perdarahan hebat, renjatan (shock) maupun kematian. 3. Tahap laten/periode infeksi/tahap penyakit lanjut Kaku otot dan sendi sehingga organ tubuh yang terserang virus tidak bisa digerakan; stroke (sementara). c. Tahap Pasca-Patogenesis Pada demam Chikungunya tidak ada perdarahan hebat, renjatan (Syok) maupun kematian tetapi penderita akan mengalami kelumpuhan motorik yang tidak permanen. Manifestasi penyakit berlangsung 3 – 10 hari. Penyakit ini termasuk Self Limiting Disease (akan sembuh sendiri). Namun rasa nyeri masih akan terasa dalam beberapa minggu atau bulan. Penyakit ini akan hilang dengan sendirinya dalam kurun waktu tiga sampai sepuluh hari. 
  4. Pencegahan penyakit Chikungunya 1. Pencegahan primer (pre – patogenesis) : • Selalu bersihkan lingkungan rumah sekurang-kurangnya seminggu sekali agar tidak menjadi tempat perindukan nyamuk sehingga bebas dari nyamuk Aedes. • Sedapat mungkin lindungi diri dari gigitan nyamuk terutama pada siang hari, misalnya dengan mengunakan obat gosok (repellent), pemakaian kelambu dan pemasangan kawat kasa pada ventilasi rumah. • Melaksanakan gotong royong membersihkan lingkungan dari tempat-tempat perindukan/perkembang biakan nyamuk penular. • Melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan melaksanakan 3M (menguras, mentup dan mengubur) minimal seminggu sekali atau menebarkan ikan pemakan jentik (tempalo, cupang). 2. Pencegahan sekunder (patogenesis) : • Segera memeriksakan diri ke klinik atau Rumah sakit terdekat apabila mengalami tanda dan gejala penyakit chikungunya. • Melakukan pengobatan yang bersifat : a. Simtomatis - Antipiretik : Parasetamol atau asetaminofen (untuk meredakan demam) - Analgetik : Ibuprofen, naproxen dan obat Anti-inflamasi Non Steroid (AINS) lainnya (untuk meredakan nyeri persendian /athralgi / arthritis) - Catatan: Aspirin (Asam Asetil Salisilat) tidak dianjurkan karena adanya resiko perdarahan pada sejumlah penderita dan resiko timbulnya Reye’s syndrome pada anak-anak dibawah 12 tahun. b. Suportif • Tirah baring (bedrest), batasi pergerakkan. • Minum banyak untuk mengganti kehilangan cairan tubuh akibat muntah, keringat dan lain-lain. • Fisioterapi 3. Pencegahan tersier (post patogenesis) : • melakukan rawat jalan bagi penderita cikungunya G. 5. Model Epidemiologi Pada penyakit Chikungunya dikenal model epidemiologinya adalah model segitiga epidemiologi atau triangle epidemiologi. Didalam model segitiga epidemiologi ini agent, host, dan environment saling berkaitan. Penyakit Chikungunya bisa menular dari manusia satu ke manusia yang lain melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes Albopictus yang juga nyamuk penular DBD. Dan nyamuk Aedes aegypti bertambah populasinya salah satunya karena sanitasi lingkungan yang buruk. A H Ket : Kepekaan inang terhadap agent meningkat Contoh : 1. Urbanisasi yang tidak terencana dan tidak terkendali yang akan berakibat pada pertumbuhan penduduk yang tinggi. Hal ini akan memudahkan penyebaran Chikungunya dari satu tempat ketempat yang lain. 2. Terjadinya perpindahan penduduk dari daerah yang terinfeksi virus Chikungunya. Hal ini juga akan memudahkan penyebarluasan Chikungunya, karena kemungkinan besar nyamuk Aedes aegipty yang ada di daerah yang belum terinfeksi virus Chikungunya, mengigit orang-orang dari daerah yang terinfeksi virus Chikungunya. Dan kemungkinan besar akan mengigit orang-orang yang ada di daerah yang belum terinfeksi virus Chikungunya,sehingga orang- orang yang semula tidak terinfeksi virus Chikungunya menjadi terinfeksi. Akhirnya virus Chikungunyapun menyebar. Daftar Pustaka Soedarto. 2009. Penyakit Menular Indonesia. Jakarta: Sagung Seto. http://www.inicaraku.com/mengenal-penyebab-dan-gejala-terkena-demam-chikungunya.html http://www.binasyifa.com/159/79/25/faktor-risiko-penyakit-chikungunya.htm http://www.info-kes.com/2012/07/chikungunya.html http://www.indonesian-publichealth.com/2014/12/pedoman-pengendalian-demam-chikungunya.html

Sabtu, 02 Januari 2016

Cara Pengambilan Sampel Air

Jenis-jenis sampel air dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu sebagai berikut: 
  1. Sampel sesaat (grab sample), yaitu sampel yang diambil secara langsung dari badan air yang sedang dipantau. Sampel ini hanya menggambarkan karakteristik air pada saat pengambilan sample. Pengambilan sampel dengan metode ini dilakukan satu kali setiap titik dan langsung diperiksa.
  2. Sampel komposit (composite sample), yaitu sampel campuran dari beberapa waktu pengamatan. Pengambilan sampel campuran dari beberapa waktu pengamatan. Pengambilan sampel komposit dapat dilakukan secara manual ataupun secara otomatis dengan menggunakan peralatan yang dapat mengambil air pada waktu-waktu tertentu dan sekaligus dapat mengukur debit air. Pengambilan sampel secara otomatis hanya dilakukan jika ingin mengetahui gambaran tentang kareakteristik kualitas air secara terus-menerus.
  3. Sampel gabungan tempat (integrated sampel), yaitu smpel gabungan yang diambil secara terpisah dari beberapa tempat, dengan volume yang sama.
Beberapa hal yang yang perlu dilakukan dalam pengambilan sampel kimiawi diantaranya sebagai berikut :
  1. Sebelum diisi air sampel, botol sampel diisi air sampel terlebih dahulu kemudian airnya dibuang agar kotoran yang ada didalam botol sampel keluar.
  2. Pengisian air sampel secara penuh, untuk mengantisipasi terjadinya aerasi.
     Beberapa hal yang menyangkut teknik pengambilam sampel air dikemukakan dalam Kumpulan Standar Nasional Indonesia Bidan Pekerjaan Umum Mengenai Kualitas Air (1990). Pada dasarnya, pengambilam sampel air dapat dilakukan terhadap air permukaan maupun air tanah.
  1. Air permukaan, Air permukaan meliputi air sungai, danau, waduk, rawa, dan genangan air lainnya. Pengambilan sampel di sungai yang dekat dengan muara atau laut yang dipengaruhi oleh air pasang harus dilakukan agak jauh dari muara. Adapun pengambilan sampel air sungai dapat dilakukan di lokasi-lokasi sebagai berikut.
  2. Sumber alamiah, yaitu lokasi yang belum pernah atau masih sedikit mengalami pencemaran.
  3. Sumber air tercemar, yaitu lokasi yang telah mengalami perubahan atau di bagian hilir dari sumber pencemar.
  4. Sumber air yang dimanfaatkan, yaitu lokasi penyadapan/pamanfaatan sumber air.
HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN:
  1. Sampel air yang diambil harus dalam keadaan steril. Hal ini dimaksudkan agar air yang diambil mengandung bakteri yang murni berasal dari air tersebut, sehingga diperlukan teknik- teknik pengambilan air sampel yang benar. 
  2. Selang waktu untuk pemeriksaaan bakteriologis minimal 1 jam dari pengambilan harus sudah dilakukan pemeriksaan. Namun dapat dipertahankan lebih lama lagi asal disimpan dalam lemari pendingin kurang lebih 30 jam.
HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM PENGAMBILAN SAMPEL BAKTERIOLOGIS: 
Dalam pengambilan air yang digunakan untuk pemeriksaan bakteriologis berbeda dengan keperluan untuk pemeriksaan fisika dan kimia, terutama mengenai sterilisasi, yaitu :
  1. Botol untuk tempat contoh air harus bersih dan steril. Sterilisasi dilakukan pada suhu 180o C selama 20 menit dalam oven atau sesuai dengan tabel suhu dan waktu sterilisasi pada oven.
  2. Botol harus mempunyai mulut lebar dan mempunyai tutup yang masuk kedalam leher dengan diberi kertas pelindung yang dikaitkan pada sekeliling botol sebelum disterilkan.Volume botol yang digunakan minimal 150 ml dan diisi dengan air paling sedikit 100 ml, sehingga masih ada sisa ruangan diatas contoh air untuk mencampur contoh air sebelum diperiksa.
  3. Untuk pemeriksaan air yang telah diolah seperti air PDAM harus dipakai botol kain yang diberi natrium thio sulfat untuk menetralisasi sisa chlor. Tutup botol dan kertas pelindung diambil sebagai satu kesatuan dan dipegang antara jari-jari tangan.
  4. Untuk pengambilan dipegang di bagian bawah botol, diisi dengan contoh air, dan secepatnya ditutup kembali.
  5. Pengambilan harus dilakukan secara hati-hati dan aseptis.
  6. Setelah selesai pengambilan sampel, botol bungkus kertas kembali kemudian diberi label, diantaranya memuat (kode sampel, jenis sampel, lokasi pengambilan sampel, tujuan pemeriksaan, pengambil sampel, tanggal pengambilan , jam, pengirim sampel, parameter pemeriksaan, titik sampel).
video pengambilan sampel air bersih


Sumber :
http://triamegumi.blogspot.co.id/2012/10/laporan-pengambilan-sampel-air-keran-sgl.html
https://www.youtube.com/watch?v=gRiRtYh0ufg


Jumat, 01 Januari 2016

Pemboran Tanah Sistim CTM 10000

       CTM 10000 adalah salah satu alat drilling yang digunakan dalam penyediaan sarana air bersih masyarakat. Alat ini mampu mengebor tanah hingga kedalaman 100 m. Alat ini menggunakan Sistem Hidrolik atau menggunakan alat tekanan dalam pengoperasiannya. 
Ciri– ciri CTM 10000 : 
  1. Menggunakan system hidrolik pada pengoperasiannya, sehingga pengoperasian menggunakan handel. 
  2. Menggunakan bensin sebagai bahan bakarnya. 
  3. Menggunakan oli dan aki. 
  4. Dalam pengoperasiannya dibantu oleh mesin pompa air yang akan dihubungkan dengan selang hisap yang terdapat pada swifle head, sehingga tanah yang di akan dibor lunak, sehingga pengeboran pun mudah untuk dilaksanakan. 
Bagian-bagian pada CTM 10000: 
  1. Swiheal Head , berfungsi sebagai tempat memasangkan stang bor, selang hisap dan selang hantar. Dari swifeal head ini tampak jelas bahwa CTM 10000 ini menggunakan sistem hidrolik dalam pengoperasian. Jika swiheal head ditegakkan 900, maka stang bor akan menuju ke arah tanah kemudian handel emutar stang bor pada swiheal head di operasikan, sehingga pengeboran dapat dilaksanakan. 
  2. Handel / Tuas,
    • Handel 1, berfungsi sebagai pengatur menaikkan / menurunkan swiheal head. 
    • Handel 2, berfungsi sebagai pengatur menaikkan / menurunkan stang bor yang telah terpasang pada swiheal head. 
    • Handel 3, berfungsi sebagai pengatur arah putar mata bor pada stang bor yang telah terpasang pada swiheal head.  
  3. Tripot Berfungsi sebagai penegak dari CTM 10000 agar berdiri tegak dan kokoh dalam keadaan  swifeal head yang seimbang dengan kemiringan swiheal head 90°. CTM 10.000 memiliki tiga buah tripot. Satu buah tripot pada bagian depan CTM 10.000, dan dua buah tripot pada bagian belakang CTM 10.000. Cara menentukan kemiringan swiheal head telah 90° adalah menggunakan alat water pass atau menggunakan alat sederhana menggunakan tali dan batu. Tali yang diikatkan pada bagian swiheal head yang mengarah keatas, dan pada ujung tali diikatkan batu. Dengan bantuan gaya gravitasi dapat dilihat kemiringan swiheal head telah 90°.
  4. Pengunci Swiheal Head Berfungsi agar swiheal head tidak turun saat pengeboran berlangsung. Terdapat pada bagian sisi kiri dan kanan swiheal head. 
  5. Pengait Stang Bor Berfungsi sebagai penguat dudukan stang bor ketika stang bor ditambah dalam pengeboran. Hal ini dilakukan agar kedalaman pengeboran tanah bisabertambahhinggatitik air tanah yang diperlukan dapat ditemukan. 
Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam pemboran tanah sistem CTM 10000 adalah sebagai berikut
  1. Menyiapkan alat pemboran tanah sistem CTM 10.000 
  2. Menyiapkan bahan-bahan pemboran tanah, termasuk menyiapkan galian tanah (bak air) sebagai tempat sirkulasi air ukuran 50 x 50 x 50 cm. 
  3. Tempatkan mesin pemboran CTM 10.000 pada tempat yang datar dan posisikan mesin penyangga/pemutar pipa pemboran tegak lurus dengan permukaan tanah. 
  4. Merangkai alat Pemboran dengan susunan: mata bor, pipa pemboran, swivel head, slang penghantar air, mesin 5 PK, pipa pengisap air, saaringan. 
  5. Pelaksanaan pemboran tanah :
    • Tempatkan slang pengisap air pada bak sirkulasi. 
    • Tempatkan mata bor yang sudah terangkai pada titik pemboran, gali sedikit tanah pada titik   yang akan dibor. 
    • Hidupkan (“ON”) mesin Hydrolich untuk pengatur putaran pipa bor dan pengatur naik turunnya (Lief) mesin pemutar pemboran dan pengaturan penyangga mesin pemutar pipa bor. 
    • Hidupkan (“ON”) mesin 5 PK sehingga terjadi proses pengisapan dan penyemburan air melalui ujung mata bor. 
    • Putar pipa pemboran searah jarum jam dengan cara menekan panel pemutar pemboran.
    • Sambung pipa pemboran setiap mencapai kedalaman 1,5 meter dengan cara : 
      1. Matikan mesin pengisap dan penyembur air.
      2. Jepit pipa pemboran dengan klem yang tersedia.
      3. Tekan panek pemutar balik pipa pemboran, agar pipa pemboran terlepas dari swivel head. 
      4. Sambung pipa pemboran dengan cara menekan panel pemboran agar sambungannya lebih  rapat.
      6. Akhir pelaksanaan pemboran, mahasiswa wajib membersihkan alat dan mengembalikan ke                 tempat semula. 

Sumber : 
http://www.kelair.bppt.go.id/Sitpa/Laporan/airber.html 
http://www.scribd.com/doc/117672918/pengeboran-sumur-bor-dengan-sistem-CTM-10000#scribd
Buku Panduan Praktik Mahasiswa Prodi D-III Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta 2015

Foto saat melakukan pemboran tanah dengan sistim CTM 10000

Foto saat pembuatan kolam pengendapan